Karakter Pahlawan Dalam Al Quran

Bila kita mendengar kata pahlawan, maka yang tergambar dalam pikiran kita adalah seseorang pemberani, pejuang, dan berjasa bagi suatu komunitas bangsa. Tidak boleh ada karakter negatif pada seorang pahlawan. Setiap bangsa dan setiap ummat senantiasa membutuhkan sosok pahlawan. Pepatah mengatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai jasa para pahlawan, dan mampu melanjutkan perjuangan para pahlawan tersebut.

 

Di sisi lain, status kepahlawanan seseorang tergantung dari sudut pandang suatu komunitas terhadap sosok tersebut. Seseorang dipandang sebagai pahlawan oleh suatu komunitas, tetapi komunitas lainnya memandang orang tersebut sebagai pengkhianat atau pemberontak. Misalnya sosok Pangeran Diponegoro. Dalam tinjauan bangsa Indonesia, Pangeran Diponegoro adalah seorang pejuang dan pahlawan yang memperjuangkan terusirnya penjajah dari tanah air. Sebaliknya, dalam tinjauan pemerintahan kolonial Hindia-Belanda, Pangeran Diponegoro adalah seorang pemberontak, sehingga harus ditumpas. Dalam pandangan masyarakat Palestina, para aktivis HAMAS di Palestina adalah para pejuang yang memperjuangkan terbebasnya Palestina dari cengkeraman Israel. Sebaliknya, aktivis HAMAS dalam pandangan Israel adalah para teroris yang harus diperangi. Demikianlah, perbedaan sudut pandang dan kepentingan antar komunitas menyebabkan perbedaan penilaian terhadap status seseorang atau suatu kelompok.

 

Sebagai seorang muslim, kita tentu berharap dan berupaya menjadi pahlawan dalam pandangan Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, kita perlu memahami bagaimana karakter pahlawan dalam pandangan Islam. Pada tulisan ini, akan dipaparkan karakter pahlawan dalam Al Quran. Penulis mendapatkan materi ini dari taushiyah Ustadz Abdul Aziz Abdur Rauf dalam acara MABIT di Masjid Telkom, Jln. Supratman Bandung, pada Sabtu malam Ahad, tanggal 22 Nopember 2008.

 

Dalam Al Quran, istilah yang digunakan untuk para pendukung kebenaran, para kesatria atau pahlawan (dalam istilah sekarang) adalah rajul. Secara bahasa rajul berarti seorang laki-laki. Bentuk ganda (mutsanna) dari rajul adalah rajula-ni, sedang bentuk jamaknya adalah rija-l.  Para rijal ini ada pada setiap zaman, baik pada setelah Rasulullah Muhammad SAW diutus, maupun pada ummat-ummat terdahulu.

Keterangan: Penulisan rija-l menunjukkan bahwa suku kata ”ja” pada rija-l merupakan bacaan panjang (mad).

 

Bila kita mengkaji Al Quran, karakter rijal dapat ditemukan pada beberapa surat dalam Al Quran. Ciri-ciri (karakteristik) para rijal yang disebutkan dalam Al Quran adalah:

1)                  Menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah (untuk berjihad di jalan Alloh).

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Artinya : Di antara orang-orang mukmin itu ada rijal, yaitu orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu(**) dan mereka tidak merobah (janjinya) (Al Quran surat Al Ahzab [33]: 23).

Keterangan: (**) Maksudnya menunggu apa yang telah Allah janjikan kepadanya. 

 

2)                  Mendukung kebenaran, dan berani mengingatkan penguasa tiran.

Alloh Subhanahu wa Ta’ala mengisahkan rijal pada masa Firaun melalui firman-Nya:

 Artinya: Dan seorang rajul yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir’aun yang menyembunyikan imannya berkata: “Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena Dia menyatakan: “Tuhanku ialah Allah, padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. dan jika ia seorang pendusta maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu”. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta (Al quran surat Al Mu’min [40]: 28).

 

3)                  Takut kepada Alloh, dan mengingatkan kaumnya untuk berjihad di jalan Alloh. Alloh Subhanahu wa Ta’ala mengisahkan rijal pada masa Bani Israil melalui firman-Nya:

 Artinya: “berkatalah rajulani (dua rajul) diantara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman” (Al Quran surat Al Maidah [5]: 23). 

 

4)                  Para rijal senantiasa mengingat Alloh, mendirikan shalat, mununaikan zakat, dan mereka tidak dilalaikan oleh perniagaan dunia.

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 Artinya: “ Rijal yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang” (Al Quran surat An Nur [24]: 37).  

5)                  Mensucikan diri dan memakmurkan masjid.

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 Artinya: janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar taqwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. Di dalamnya mesjid itu ada rijal yang ingin membersihkan diri. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih” (Al Quran surat At Taubah [9]: 108). 

 

6)                  Memberikan saran yang baik kepada utusan Alloh demi tegaknya agama Alloh. Alloh Subhanahu wa Ta’ala mengisahkan kisah seorang rajul di kalangan ummat Nabi Musa melalui firman-Nya:

 Dan datanglah seorang rajul dari ujung kota bergegas-gegas seraya berkata: “Hai Musa, sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu, sebab itu keluarlah (dari kota ini) Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang memberi nasehat kepadamu” (Al Quran surat Al Qashash [28]: 20). 

 

7)                  Mengingatkan kaumnya untuk menginguti agama Alloh. Alloh Subhanahu wa Ta’ala mengisahkan rijal pada masa Bani Israil melalui firman-Nya:

Artinya: “Dan datanglah dari ujung kota, seorang rajul dengan bergegas-gegas ia berkata: “Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu” (Al Quran surat Yasin [36]: 20).

 

Demikianlah beberapa karakteristik rijal (pahlawan) dalam Al Quran. Semoga kita dapat meneladani karakter para rijal tersebut.

 

 

Ya Alloh, jadikanlah kami rijal yang berjuang di jalan-Mu…

Berikanlah pertolongan kepada para rijal, para pejuang, yang saat ini sedang berjuang di bumi Palestina, juga di belahan bumi yang lain.

 

Bandung, Jawa Barat

Selasa, 13 Januari 2009 (16 Muharram 1430 H)

Published in: on 13 Januari, 2009 at 8:56 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Ketika Amanah Bertambah (Bagian Penutup) Beberapa Pelajaran dari Al Quran Surat Luqman

”Suatu pagi, seorang ayah mengantarkan putrinya menuju ke sekolah. Putrinya menempuh pendidikan formal di sebuah SDIT (Sekolah Dasar Islam Terpadu), tidak jauh dari tempat tinggalnya. Dalam perjalanan, sang buah hati mengulang hafalan surat pendek pada juz ke-30, untuk memantapkan hafalannya.  Sang ayah pun senantiasa berharap agar putra-putrinya mempunyai pemahaman keIslaman yang baik, dan kelak menjadi manusia-manusia utama, yaitu manusia yang bertaqwa kepada Alloh”. Penulis meyakini, setiap orang tua mempunyai harapan serupa dengan harapan ”sang ayah” tersebut. Agar harapan tersebut dapat tercapai, mutlak diperlukan suri taulan dan pendidikan yang baik bagi anak-anak.

 

Setiap bentuk pendidikan yang diberikan kepada anak, baik berupa pendidikan formal di lembaga pendidikan, dan pendidikan non-formal, seharusnya mengarahkan anak sesuai dengan fithrah dasarnya, yaitu tauhid (mengesakan Alloh dan memurnikan ketaatan hanya kepada Alloh). Di dalam Al Quran, Alloh Subhanahu wa Ta’ala menyampaikan sepenggal kisah seorang manusia sholih, Luqman, dalam menyampaikan pendidikan kepada putra-putranya. Tentunya kisah dalam Al Quran dimaksudkan agar dapat dijadikan ibrah (pelajaran) bagi manusia, terutama bagi insan-insan yang beriman kepada Alloh.

 

Bila kita mengkaji Al Quran surat Luqman, yaitu surat ke-31, ada beberapa hal mendasar yang harus diajarkan kepada anak usia dini. Hal-hal tersebut meliputi:

 

(1)      Mengajarkan anak untuk mengesakan Alloh, dan memurnikan ibadah dan ketaatan hanya kepada Alloh, dan tidak menyekutukan Alloh dengan apa pun.

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 qs_luqman_131

Artinya: Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar” (Surat Luqman [31]: 13).

 

(2)      Menanamkan pemahaman kepada anak bahwa Alloh Maha Mengetahui terhadap semua perbuatan yang dilakukan oleh manusia, meskipun perbuatan tersebut hanya sebesar atom ataupun biji sawi.

 

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

qs_luqman_161 

 

 

 

 Artinya: (Luqman berkata): “Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus(*) lagi Maha mengetahui (Surat Luqman [31]: 16).

 

Kesadaran ini merupakan kendali yang sangat kuat bagi anak (juga bagi manusia pada umumnya) untuk mencegah perbuatan dosa dan kemaksiatan.

 

Keterangan: (*) Yang dimaksud dengan Allah Maha Halus ialah ilmu Allah itu meliputi segala sesuatu bagaimana kecilnya.

 

(3)      Mengajarkan anak untuk menegakkan sholat, mendidik anak sehingga tumbuh menjadi seorang da’i, dan membiasakan anak bersabar terhadap segala sesuatu (kesulitan) yang menimpanya.

 

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

  qs_luqman_171 

 

 

 

 

Artinya: Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan oleh Allah (Surat Luqman [31]: 17).

 

Perlu diingat bahwa menjadi seorang da’i tidak identik dengan penceramah, muballigh ataupun orang yang terbiasa memberikan khutbah. Apapun profesi yang dipilih oleh anak (guru, dokter, pebisnis, petani, maupun profesi lainnya) tidak menjadi penghalang dalam aktivitas dakwah, yaitu menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.

 

Selain itu, aktivitas dakwah dapat diajarkan kepada anak sejak dini. Sebagai contoh, kita meminta anak untuk mengingatkan kita bila berbuatan kesalahan, atau meminta anak sulung mengajak adik-adiknya mengerjakan sholat lima waktu dan mengkaji Al Quran bersama-sama.

 

Sebagai uraian penutup, upaya pendidikan kepada anak tersebut mutlak diiringi dengan teladan yang baik dari orang tua. Tanpa adanya keteladanan dari orang tua, pendidikan kepada anak tidak akan berhasil dengan baik.

 

Ya Alloh, …

Jadikanlah kami, pasangan-pasangan kami, dan anak-anak kami termasuk golongan orang-orang yang mendirikan sholat. Bimbinglah kami semua agar senantiasa berada pada jalan lurus, yaitu jalan-Mu.

 

Bandung, Jawa Barat

Rabu, 19 November 2008 (21 Dzulqa’dah 1429 H)

Published in: on 19 November, 2008 at 8:39 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Ketika Amanah Bertambah (Bagian Pertama)

”Kamis dini hari tanggal 29 Mei 2003. Dengan menumpang becak, seorang suami mengantarkan istrinya yang akan melahirkan putra pertama mereka. Menurut bidan yang menanganinya, diperkiran sang istri akan bersalin pada esok harinya. Ternyata, tak lama kemudian, sang buah hati pun lahir. Suami-istri itu pun mengucapkan syukur kepada Alloh SWT atas amanah yang mereka terima”. Itulah sepengal episode kehidupan yang lazim terjadi dalam kehidupan berkeluarga.

Setiap keluarga mendapatkan buah hati yang diharapakan menjadi penyejuk mata, penyambung generasi, dan penerus cita-cita perjuangan. Rasanya, kehidupan berkeluarga belum lengkap tanpa kehadiran seorang anak (buah hati). Kehadiran buah hati akan menjadi penghias kehidupan keluarga. Demikianlah, di dalam Al Qur’an juga ditegaskan bahwa anak merupakan perhiasan dalam kehidupan di dunia. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Artinya: Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga) (Surat Ali ’Imran [3]: 14).

Dalam ayat lainnya, Alloh Subhanahu wa Ta’ala menegaskan melalui firman-Nya

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (QS. Al-Kahfi [18]: 46)

Ayat-ayat tersebut mengingatkan kita sebagai insan muslim agar kita tidak melupakan kehidupan yang lebih baik dan kekal, yaitu mendapatkan balasan yang baik dari sisi Alloh, yang berupa surga di hari akhir.

Selain sebagai perhiasan kehidupan dunia, pada dasarnya anak merupakan ujian (fitnah) bagi orang tua. Alloh Subhanahu wa Ta’ala menegaskan melalui firman-Nya

Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. (QS. Al-Anfal [8]: 28)

Orang tua dituntut untuk mengarahkan anak sesuai dengan tuntunan Islam, dan membekalinya dengan pemahaman terhadap akidah Islam secara kuat. Orang tua berkewajiban mengarahkan dan membimbing putra-putinya agar menjadi manusia bertaqwa, sehingga kelak pada hari akhir terhindar dari siksa neraka. Alloh Subhanahu wa Ta’ala menegaskan dalam firman-Nya

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At Tahrim [66]: 6)

Ketika orang tua lalai sehingga anak-anaknya jauh dari tuntunan Islam, justru anak-anak tersebut dapat menjerumuskan orang tuanya sehingga jauh dari Islam (Kita bermohon perlindungan kepada Alloh dari hal tersebut). Pada kondisi demikian, pada hakekatnya, anak telah menjadi musuh bagi orang tua. Alloh Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan kita melalui firman-Nya

Hai orang-orang mukmin, Sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu*, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka. Dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. At Taghabun [64]: 14)
*Maksudnya: kadang-kadang isteri atau anak dapat menjerumuskan suami atau ayahnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak dibenarkan agama.

Sebagai orang tua, kita menginginkan agar anak-anak kita anak tumbuh menjadi insan yang sholih/sholihah. Kita menginginkan agar anak-anak kita menjadi penyejuk mata bagi kedua orang tuanya, sebagaimana yang digambarkan oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala melalui firman-Nya

Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami pasangan-pasangan (isteri-isteri) kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa (QS. Al Furqan [25]: 74)

Ya Alloh, kami memohon kepada-Mu,…
Anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan kami, istri ataupun suami kami, dan keturunan kami sebagai penyejuk mata bagi kami, dan jadikanlah kami sebagai imam (pemimpin) bagi orang-orang yang bertaqwa.

Bandung, Jawa Barat
Rabu, 29 Oktober 2008 (29 Syawal 1429 H)

Published in: on 30 Oktober, 2008 at 10:06 am  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags:

Pentingnya Memurnikan Niat (Motivasi Penggerak Amal) Dalam Melaksanakan Amal Shalih

Dari Amirul Mukminin, Abu Hafs Umar bin Al Khattab r.a., dia berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Barang siapa yang hijrahnya karena Alloh dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Alloh dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya, atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya sebagaimana yang dia niatkan.

(Hadits riwayat dua imam ahli hadits, yaitu Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Bardizbah Al Bukhary dan Abu Al-Husain Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusyairy An-Naisabury, dalam kitab Ash-Shahih yang disusun oleh keduanya. Kitab Ash-Shahih yang disusun oleh kedua imam tersebut merupakan kitab paling shahih di antara kitab-kitab hadits lainnya).

Beberapa pelajaran yang dapat dipetik dari hadist tersebut:

  • Pada dasarnya hijrah merupakan amal shalih, yang diperintahkan oleh Alloh kepada manusia yang beriman. Hijrah dilakukan untuk menjaga kehidupan beragama Islam bagi orang-orang beriman. Ketika hijrah dilaksakan dengan tendensi duniawi (misalkan mengharapkan keuntungan materi, atau untuk mendapatkan wanita/pasangan yang ingin dinikahi), maka hijrah tersebut tidak bernilai apapun di sisi Alloh.
  • Demikian pula amal shalih-amal shalih yang lain, tidak akan bernilai kebaikan di sisi Alloh, jika amal tersebut tidak dilandasi niat yang murni dan tulus untuk mengharapkan keridlaan Alloh.
  • Ikhlas, yaitu memurnikan niat untuk mengharapkan keridlaan Alloh merupakan salah satu syarat diterimanya amal shalih.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • Niat merupakan amalan hati.
  • Perbuatan buruk tidak akan menjadi amal shalih, meskipun perbuatan tersebut diniatkan untuk kebaikan. Misalkan mengambil sesuatu yang bukan hak (mencuri, merampok, korupsi) dengan niat untuk membantu fakir-miskin, membuka aurat dengan niat untuk membantu orang-orang lemah.

Ya Alloh, teguhkanlah hati kami dalam ad-din Islam, dan teguhkan hati kami dalam ketaatan kepada-Mu.

Bandung, Jawa Barat.

Senin, 13 Oktober 2008

Published in: on 17 Oktober, 2008 at 8:29 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Beberapa Pelajaran Tentang Hari Akhir Berdasarkan Al Quran Juz 30

Keimanan dalam Islam terdiri dari enam pilar (rukun), yaitu iman kepada Alloh, malaikat, kitab Alloh, Rasul Alloh, hari akhir, dan iman kepada taqdir Alloh. Iman kepada hari akhir menjadi kontrol bagi seorang mukmin (insan yang beriman) dalam melakukan aktivitas-aktivitasnya dalam kehidupan dunia. Seorang mukmin hanya akan memilih aktivitas yang mempunyai dampak baik bagi kehidupannya kelak pada hari akhir. Sebaliknya, tanpa adanya keimanan terhadap hari akhir, manusia akan berbuat menuruti kehendak hawa nafsunya, tidak mempedulikan apakah perbuatan tersebut baik atau buruk.

Berikut penulis memberikan paparan tentang beberapa pelajaran tentang hari akhir, yang dapat dipetik dari Al Quran juz ke-30. Banyaknya ayat Al Quran pada juz ke-30 yang menegaskan hari akhir menunjukkan bahwa hari akhir merupakan suatu kepastian. Dengan demikian, kita harus meningkatkan keimanan dan amal shalih, sehingga pada hari akhir kelak, kita akan mendapatkan balasan yang baik dari Alloh Subhanahu wa ta’ala.

Penegasan berupa sumpah dari Alloh Subhanahu wa ta’ala tentang hari akhir

§ Alloh Subhanahu wa ta’ala bersumpah dengan para malaikat, baik malaikat yang mencabut nyawa dengan keras, dengan lemah lembut, malaikat yang turun dari langit, malaikat yang mendahului dengan kencang, dan malaikat yang mengatur urusan dunia tentang datangnya hari akhir (An Nazi’at [79]: 1 – 5).

Ketetapan tentang hari akhir

§ Hari akhir (hari keputusan) merupakan waktu yang telah ditetapkan oleh Alloh (An Naba [78]: 17).

§ Hari akhir merupakan hari yang pasti tejadi (An Naba [78]: 39).

§ Rasulullah SAW pun tidak dapat menyebutkan kapan waktu terjadinya hari akhir (An Nazi’at [79]: 43).

§ Hanya Alloh Subhanahu wa ta’ala yang mengetahui kapan terjadinya hari akhir (An Naziat [79]: 44).

Tugas Rasulullah SAW yang berhubungan dengan hari akhir

§ Rasulullah SAW sebagai pemberi peringatan kepada manusia tentang adanya hari akhir (An Nazi’at [79]: 45).

§ Rasulullah SAW diperintahkan memberi peringatan berupa ancaman siksa yang pedih bagi orang – orang yang tidak mau beriman (Al Insyiqaq [84]: 24).

Sebutan untuk hari akhir, karakteristik hari akhir

§ Hari dinampakkan semua rahasia (Ath Thariq [86]: 9).

§ Ath Tho~mmah (Malapetaka yang sangat besar) (An Nazi’at [79]: 34)

§ Ash Sho~khoh (Suara yang memekakkan) (‘Abasa [80]: 33).

§ Yaumud din (Hari pembalasan) (‘Al Infithar [82]: 18).

§ Al Ghasyiyyah (Hari pembalasan). (Al Ghasyiyah [88]: 1).

§ Al Qori’ah (Hari kiamat) (Al Qoriah [101]: 1)

Sikap orang – orang kafir tentang hari akhir

§ Orang-orang kafir memperselisihkan tentang hari berbangkit (An Naba [78] : 4).

§ Orang – orang kafir menanyakan kapan terjadinya hari akhir (hari berbangkit) (An Nazi’at [79]: 42).

§ Orang – orang yang curang, yang senang mengurangi takaran, orang – orang kafir, orang – orang durhaka tidak meyakini bahwa mereka akan dibangkitkan pada hari akhir (Al Muthoffifin [83]: 1 – 4).

Kejadian –kejadian yang menggambarkan kedahsyatan hari akhir

§ Di bukanya langit, sehingga terdapat beberapa pintu (An Naba [78] : 19).

§ Gunung – gunung dijalankan, sehingga menjadi fatamorgana (An Naba [78] : 20).

§ Ruh (malaikat Jibril) dan para malaikat berdiri bershaf – shaf Tidak ada yang berkata – kata kecuali yang telah diizinkan oleh Alloh, dan dia mengucapkan perkataan yang benar (An Naba [78] : 38).

§ Tiupan pertama mengguncangkan alam semesta. Tiupan pertama diiringi tiupan kedua (An Nazi’at [79]: 6 – 7).

§ Dengan sekali tiupan, manusia yang telah mati, hidup kembali (An Naziat [79]: 13 – 14).

§ Datangnya hari akhir disertai dengan suara yang memekakkan (‘Abasa [80]: 33).

§ Matahari digulung, bintang – bintang berjatuhan, gunung – gunung dihancurkan, binatang – binatang liar dikumpulkan, lautan dipanaskan, ruh – ruh dipertemukan dengan tubuh, bayi – bayi perempuan yang dikubur hidup – hidup ditanya tentang penyebab mereka dibunuh, catatan amal manusia dibuka, langit – langit dilenyapkan, neraka Jahim dinyalakan, dan surga didekatkan (At Takwir [81]: 1 – 13).

§ Langit terbelah, bintang – bintang jatuh berserakan dan kuburan – kuburan (penghuni kubur) dibangkitkan kembali (Al Infithar [82]: 1 – 4).

§ Manusia berdiri menghadap Alloh (Al Muthoffifin [83]: 6).

§ Langit terbelah, bumi diratakan, bumi memuntahkan isinya sehingga menjadi kosong karena langit dan bumi patuh kepada Alloh (Al Insyiqaq [84]: 1 – 5).

§ Bumi diguncangkan. Alloh datang, sedang malaikat berbaris – baris (Al Fajr [89]: 21 – 22).

§ Bumi diguncangkan dengan dahsyat. Bumi mengeluarkan beban – beban berat yang dikandungnya. Bumi menceritakan beritanya (Al Zalzalah [99]: 1- 4).

§ Manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam – macam (Al Zalzalah [99]: 6).

§ Manusia seperti anai – anai yang bertebaran (Al Qariah [101]: 4).

§ Gunung – gunung seperti bulu yang dihambur – hamburkan (Al Qari’ah [101]: 5).

Paniknya manusia ketika hari akhir

§ Manusia lari dari saudaranya, ibu – bapaknya, istri dan anak – anaknya (‘Abasa [80]: 34 – 36).

§ Manusia sibuk dengan urusannya sendiri – sendiri (‘Abasa [80]: 37).

Pada hari akhir, manusia teringat amal perbuatannya ketika di dunia dan manusia diperlihatkan balasan perbuatannya

§ Manusia mengetahui semua amal perbuatannya ketika masih hidup di dunia (An Naba [78]: 40).

§ Manusia teringat apa yang telah dikerjakannya (An Nazi’at [79]: 35).

§ Tiap – tiap jiwa mengetahui amal yang telah dikerjakannya (At Takwir [81]: 14).

§ Tiap – tiap jiwa mengetahui apa yang telah dikerjakan dan dilalaikannya (Al Infithar {82]: 5).

§ Manusia teringat akan neraka Jahannam. (Al Fajr [89]: 23).

§ Manusia diperlihatkan balasan perbuatannya, perbuatan baik maupun perbuatan buruk (Al Zalzalah [99]: 6 – 8).

Balasan bagi orang – orang kafir, orang – orang yang tidak beriman

§ Dimasukkan ke neraka Jahannam. Mereka tinggal berabad – abad di dalamnya, tidak merasakan kesejukan sedikit pun. Mereka diberi minum dari air mendidih dan nanah.(An Naba [78]: 22 – 25).

§ Siksa jahannam selalu bertambah (An Naba [78]: 30).

§ Orang – orang yang melampaui batas dan mementingkan kehidupan dunia akan ditempatkan di neraka Jahim (An Nazi’at [79]: 37 – 39).

§ Orang – orang kafir wajahnya tertutup debu dan diliputi kegelapan (‘Abasa [80]: 40 – 42).

§ Orang – orang yang durhaka berada di dalam neraka Jahim. Mereka tidak dapat keluar dari neraka itu (Al Infithar [82]: 14 – 16).

§ Orang – orang yang mendustakan ayat – ayat Alloh, akan terhalang dari melihat Alloh pada hari akhir, kemudian mereka dimasukkan ke dalam neraka, sebagai siksa terhadap ayat – ayat Alloh yang mereka dustakan (Al Muthoffifin [83]: 15 – 17).

§ Orang – orang kafir akan ditertawakan oleh orang – orang yang beriman pada hari akhir, sebagai balasan terhadap perbuatan mereka ketika hidup di dunia (Al Muthoffifin [83]: 35 – 36).

§ Orang – orang durhaka, orang – orang yang meyakini bahwa mereka tidak akan kembali menghadap Alloh, mereka menerima kitabnya dari belakang. Mereka masuk ke dalam neraka yang apinya menyala – nyala (Al Insyiqaq [84]: 10 – 14).

§ Orang – orang kafir akan memasuki neraka, api yang besar. Mereka tidak mati dan tidak pula hidup di dalam neraka (Al A’la[87]: 12 – 13).

§ Wajah orang – orang kafir tunduk terhina lagi kepayahan. Mereka dimasukkan ke dalam neraka, api yang sangat panas. Mereka diberi minum dengan air yang sangat panas. Mereka diberi makan dari duri, makanan yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar (Al Ghasyiyyah [88]: 2 – 7).

§ Orang – orang kafir menyesal, sekiranya mereka mengerjakan amal shalih ketika mereka hidup di dunia (Al Fajr [89]: 24).

§ Orang – orang yang kufur kepada ayat – ayat Alloh, mereka berada di dalam neraka yang ditutup rapat (Al Balad [90]: 19 – 20).

§ Orang – orang yang mendustakan ayat – ayat Alloh dan berpaling dari kebenaran akan masuk ke dalam neraka (Al Lail [92]: 15 – 16).

§ Orang – orang kafir, ahli kitab, orang – orang musyrik akan masuk ke neraka Jahannam. Mereka kekal di dalamnya. Mereka adalah seburuk – buruk makhluk (Al Bayyinah [99]: 6).

§ Orang – orang yang ringan timbangan kebaikannya, akan dimasukkan ke dalam neraka Hawiyah, yaitu air yang sangat panas (Al Qori’ah [101]: 8 – 11).

§ Orang – orang yang bermegah –megahan, lalai dari peringatan Alloh, akan dimintai pertanggungjawaban dan akan dimasukkan ke neraka Jahim (At Takatsur [102]: 1 – 8).

§ Para pengumpat, orang yang senang menumpuk harta dan mengira bahwa harta itu akan mengekalkan kehidupan mereka, akan di masukkan ke neraka (huthomah). Api neraka akan menjulang ke hati, dan ditutup rapat atas para penghuninya. Penghuni neraka akan diikat pada tiang – tiang yang panjang (Al Humazah [104]: 1 – 9).

§ Abu Lahab dan istrinya akan dimasukkan ke neraka yang apinya bergejolak (Al Lahab [111]: 3 – 4).

Balasan bagi orang yang bertaqwa para hari akhir

§ Orang – orang bertaqwa mendapatkan kemenangan, kebun – kebun, buah anggur, gadis – gadis sebaya, dan gelas – gelas berisi minuman (An Naba [78]: 31 – 34).

§ Tidak mendengar perkataan yang sia – sia dan tidak mendengarkan perkataan dusta (An Naba [78]: 35).

§ Orang – orang yang takut kepada Alloh dan menahan hawa nafsu akan ditempatkan di surga (An Naziat [79]: 40 – 41).

§ Orang – orang beriman wajahnya berseri – seri, tertawa dan gembira (‘Abasa [80]: 38 – 39).

§ Orang – orang yang banyak berbuat kebaikan akan berada di dalam surga yang penuh kenikmatan (Al Infithar [82]: 13).

§ Orang – orang yang banyak berbuat kebaikan akan berada di dalam surga yang penuh dengan kenikmatan. Mereka diberi minum dari khamr murni yang dilak tempatnya dengan kesturi. Campuran khamr murni itu adalah tasnim, yaitu mata air minum untuk muqarrabun (orang – orang yang mendekatkan diri kepada Alloh) (Al Muthoffitin [83]: 22 – 28).

§ Wajah orang – orang beriman berseri – seri. Mereka dimasukkan ke dalam surga yang tinggi. Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia – sia. Di dalamnya ada mata air yang mengalir, tahta – tahta yang ditinggikan, gelas – gelas yang didekatkan, bantal – bantal sandaran yang tersusun, dan permadani – permadani yang terhampar (Al Ghasyiyyah [88]: 8 – 16).

§ Orang – orang yang sempurna imannya, kembali kepada Alloh dengan ridha dan diridhai oleh Alloh. Mereka dimasukkan ke dalam golongan hamba – hamba Alloh. Mereka dimasukkan ke dalam surga (Al Fajr [89]: 26 – 30).

§ Orang – orang yang bertaqwa, kelak akan ridla (Al Lail [92]: 21).

§ Orang – orang yang beriman dan beramal shalih akan dibalas dengan surga, yang mengalir di bawahnya sungai – sungai. Mereka kekal di dalamnya (Al Bayyinah [99]: 7 – 8).

§ Orang – orang yang berat timbangan kebaikannya, akan berada di surga, dalam kehidupan yang memuaskan (Al Qori’ah [101]: 6 – 7).

Ya Alloh, Dzat yang menguasai hati dan jiwa kami,…

Teguhkanlah hati-hati kami pada agama-Mu, dan teguhkanlah hati kami dalam ketaatan kepada-Mu. Amin.

Bandung, Jawa Barat.

Disusun pada hari Senin, 22 September 2008 (22 Ramadlan 1429 H).

Published in: on 24 September, 2008 at 6:54 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Menyongsong Lailatul Qodr

Lailatul Qodr merupakan malam yang sangat mulia, malam diturunkannya Al Quran ke langit dunia. Malam Lailatul Qadr lebih utama dari seribu bulan (83 tahun 4 bulan). Pada bulan Ramadlan, terutama pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadlan, Alloh Subhanahu wa Ta’ala memberikan kesempatan kepada ummat Islam untuk mendapatkan keutamaan Lailatul Qadr tersebut. Sebagai insan muslim, seyogyanyalah kita berlomba-lomba menyongsong malam Lailatul Qadr tersebut dengan memperbanyak amal shalih.

Berikut penulis kutipkan ayat-ayat Al Quran dan hadits-hadits Rasulullah yang menjelaskan malam Lailatul Qadr tersebut. Penulis mengutip dari situs http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=989.

1. Keutamaan Lailatul Qadr
Cukuplah untuk mengetahui tingginya kedudukan Lailatul Qadr dengan mengetahui bahwasanya malam itu lebih baik dari seribu bulan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya):
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur`an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (Al-Qadr:1-5)

2. Waktunya
Pendapat yang paling kuat, terjadinya Lailatul Qadr itu pada malam di akhir-akhir bulan Ramadhan sebagaimana ditunjukkan oleh hadits ‘A`isyah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dan beliau bersabda:

تَحَرَّوْا (وَفِيْ رِوَايَة: اِلْتَمِسُوْا) لَيْلَةَ القَدْرِ فِي الوِتْرِ مِنَ العَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
“Carilah Lailatul Qadr di malam ganjil pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Al-Bukhariy no.2017 dan Muslim no.1169)
Jika seseorang merasa lemah atau tidak mampu, maka janganlah sampai terluput dari tujuh hari terakhir, berdasarkan riwayat dari Ibnu ‘Umar, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اِلْتَمِسُوْهَا فِي العَشْرِ الأَوَاخِرِ (يَعْنِي لَيْلَةَ القَدْرِ) فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجَزَ فَلاَ يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ البَوَاقِي
“Carilah di sepuluh hari terakhir, jika salah seorang di antara kalian tidak mampu atau lemah maka jangan sampai terluput dari tujuh hari sisanya.” (HR. Muslim no.1165)

Telah diketahui dalam Sunnah, pemberitahuan ini ada karena perdebatan para shahabat. Dari ‘Ubadah bin Ash-Shamit, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar pada Lailatul Qadr, lalu ada dua orang shahabat berdebat, maka beliau bersabda:
“Aku keluar untuk mengkhabarkan kepada kalian tentang Lailatul Qadr, tetapi fulan dan fulan berdebat hingga diangkat (tidak bisa lagi diketahui kapan kepastian lailatul qadr terjadi), semoga ini lebih baik bagi kalian, maka carilah pada malam 29, 27 dan 25.” (HR. Al-Bukhariy 2023)

Banyak hadits yang mengisyaratkan bahwa Lailatul Qadr itu terjadi pada sepuluh hari terakhir, hadits yang lainnya menegaskan di malam ganjil sepuluh hari terakhir. Hadits yang pertama sifatnya umum sedangkan hadits kedua sifatnya khusus, maka riwayat yang khusus lebih didahulukan daripada yang umum, dan telah banyak hadits yang lebih menerangkan bahwa Lailatul Qadr itu ada pada tujuh hari terakhir bulan Ramadhan (malam ke-25, 27 dan 29), tetapi ini dibatasi kalau tidak mampu dan lemah. Maka dengan penjelasan ini, cocoklah hadits-hadits tersebut dan tidak saling bertentangan.

3. Bagaimana Mencari Lailatul Qadr?
Sesungguhnya malam yang diberkahi ini, barangsiapa yang diharamkan untuk mendapatkannya, maka sungguh telah diharamkan seluruh kebaikan (baginya). Oleh karena itu dianjurkan bagi muslimin agar bersemangat dalam melakukan ketaatan kepada Allah untuk menghidupkan malam Lailatul Qadr seperti melakukan shalat tarawih, membaca Al-Qur`an, menghafalnya dan memahaminya serta amalan yang lainnya, yang dilakukan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala-Nya yang besar. Jika dia telah berbuat demikian maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ القَدْرِ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa shalat malam/tarawih (bertepatan) pada malam Lailatul Qadr dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Al-Bukhariy 38 dan Muslim no.760)

Disunnahkan untuk memperbanyak do’a pada malam tersebut. Diriwayatkan dari ‘A`isyah, dia berkata: Aku bertanya: Ya Rasulullah, apa pendapatmu jika aku tahu kapan Lailatul Qadr (terjadi), apa yang harus aku ucapkan? Beliau menjawab: “Ucapkanlah:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
“Ya Allah, Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan mencintai orang yang meminta ampunan, maka ampunilah aku.” (HR. At-Tirmidziy 3760 dan Ibnu Majah 3850, sanadnya shahih)

Saudaraku, setelah engkau mengetahui bagaimana keadaan malam Lailatul Qadr (dan keutamaannya) maka bangunlah (untuk menegakkan shalat) pada sepuluh malam terakhir, menghidupkannya dengan ibadah dan menjauhi wanita, perintahkan kepada istrimu dan keluargamu untuk itu, perbanyaklah perbuatan ketaatan.
Dari ‘A`isyah berkata:
“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila masuk pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, beliau menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan bersungguh-sungguh serta mengencangkan kainnya (yaitu menjauhi istri-istrinya untuk konsentrasi beribadah dan mencari Lailatul Qadr).” (HR. Al-Bukhariy no.2024 dan Muslim no.1174)

4. Tanda-tandanya
Dari Ubaiy, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Pagi hari malam Lailatul Qadr, matahari terbit tidak ada sinar yang menyilaukan, seperti bejana hingga meninggi.” (HR. Muslim no.762)
Dan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Malam Lailatul Qadr adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin, dan keesokan harinya sinar mataharinya melemah kemerah-merahan.” (HR. Ath-Thayalisiy 349, Ibnu Khuzaimah 3/231 dan Al-Bazzar 1/486, sanadnya hasan)

Semoga kita semua dimudahkan oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala untuk memperbanyak amal shalih pada malam-malam terakhir bulan Ramadlan 1429 H pada tahun ini. Ya Alloh, tunjukkanlah kami pada jalanmu yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan jalannya orang-orang yang Engkau murkai, dan bukan pula jalan orang-orang yang tersesat. Amin…

Bandung, Jawa Barat.

Sabtu, 13 September 2008 (13 Ramadlan 1429 H).

Published in: on 13 September, 2008 at 6:59 am  Komentar (1)  
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.